Selasa, 13 September 2011

Hidup 100% tidak bercela,rajin ke gereja dan berprestasi bukan jaminan Tuhan menerima persembahan hidup kita



Di ibadah hari minggu ini, gw mendapat teguran yang cukup keras dari Tuhan, pada saat persembahan, didalam hati gw terjadi percakapan :
A : “Apakah kamu senang dengan persembahan yang kamu kasih ke Tuhan ?”
B: “ah, uang segini sih gak ada artinya untuk Tuhan, lagipula bukan uang kan yang dicari oleh Tuhan”
A: “persis.. benar itu bukan uang yang dicari oleh Tuhan, Tuhan mau kamu mempersembahkan hidupmu”
B: “kalau soal hidup, hidupku gak pantas untuk dipersembahkan kepada Tuhan, Tuhan juga tahu kalau aku sebagai manusia tidak akan pernah pantas mempersembahkan hidupku ini”
A: “itu memang benar, tapi apakah kamu bangga dan berani bicara pada Tuhan : Tuhan ini adalah yang usahaku yang terbaik didalam hidupku, aku tahu bahwa hidupku tidak sempurna tapi ini adalah usahaku yang terbaik dan dengan bangga dan sukacita aku persembahkan kepadaMu”
 B:” Aku belum berani untuk bicara seperti itu ke Tuhan”

Dan suasana hatiku pun hening … ada sedikit penyesalan didalam hati, namun hati gw gak berhenti disana, gw mulai menerawang dan mencari – cari sebetulnya persembahan seperti apa yang dicari oleh Tuhan :

Kita tahu kisah persembahan janda miskin yang memberikan 2 peser, 2 peser secara angka mata uang tidak ada artinya sangat kecil namun bagi janda miskin tersebut itu adalah segenap nafkahnya untuk hari itu, dan Tuhan berkenan atas persembahan janda miskin tersebut.

Inti dari cerita janda miskin bukan berarti kita harus mempersembahkan segenap nafkah kita, inti dari cerita janda miskin adalah kita perlu mempersembahkan kepada Tuhan yang terbaik, terbaik dari segala kehidupan kita, karena persembahan yang sejati adalah hidup kita kepada Tuhan

Rm. 12:1Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Lalu persembahan seperti apa yang berkenan dimata Tuhan, di pagi ini Tuhan membukakan mata gw atas 2 hal yang menjadikan persembahan berkenan di mata Tuhan

Persembahan yang berkenan kepada Tuhan adalah persembahan yang ikhlas, sukarela dan dengan sukacita :

1Taw. 29:17Aku tahu, ya Allahku, bahwa Engkau adalah penguji hati dan berkenan kepada keikhlasan, maka akupun mempersembahkan semuanya itu dengan sukarela dan tulus ikhlas. Dan sekarang, umat-Mu yang hadir di sini telah kulihat memberikan persembahan sukarela kepada-Mu dengan sukacita.

Sering kali ketika kita menjalani hidup kita, kita bersungut-sungut pada saat kita harus menempuh jalan yang benar dan tidak bisa mengkuti jalan dunia ini, misalnya ketika kita tidak nyontek pada saat yg lain nyontek dan kita pun bersungut-sungut, atau kita melayani di gereja dengan bersungut-sungut dan setelah melayani kita merasa bahwa kita sudah melayani Tuhan dengan baik, ayat di 1taw 29:17 mengatakan bahwa persembahan kita tidak boleh bersungut2 harus dengan ikhlas, sukarela dan sukacita.

Hidup kita tidak bisa sempurna, kitapun bukan orang benar, namun atas dasar kasih Tuhan saja kita dibenarkan (tidak benar tapi dianggap benar) dan disempurnakan (tidak sempurna tapi dianggap sempurna) oleh Tuhan dan atas dasar kasih Tuhanpun persembahan kita yang tidak akan pernah bisa sempurna itu akan disempurnakan oleh Tuhan hanya bila kita mempersembahkan kepada Tuhan dengan sukarela, tulus iklhas dan dengan sukacita


Wahyu 2:1"Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.2:2Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.2:3Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.2:4Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.

Kitab Wahyu ditujukan kepada jemaat Efesus dan jemaat ini bukanlah sembarang jemaat, didalam ayat 2 terlihat bahwa jemaat ini adalah jemaat yang sangat tekun dan sangat pandai (mencobai mereka yang menyebut diri rasul), sabar menderita dan tidak mengenal lelah – namun semua jerih payah jemaat di efesus di cela oleh Tuhan, Karena jemaat efesus telah meninggalkan kasih mula-mula.

Kitapun mungkin ada didalam kondisi jemaat efesus kita rajin berdoa, saat teduh, ikut pendalaman iman, kita tanpa mengenal lelah ikut berbagai kegiatan dan kepanitiaan didalam gereja, kita mematuhi semua peraturan, kita rajin bekerja/belajar dimanapun Tuhan telah tempatkan kita, namun semua jerih payah kita tersebut tidak diterima oleh Tuhan, karena Tuhan tidak melihat ada kasih kita kepada Tuhan didalam segenap usaha kita, semua itu kita lakukan dengan mengatas namakan Tuhan namun tidak dengan kasih Tuhan, dan Tuhanpun tidak menerima jerih payah kita.

Kita memang diharuskan untuk berjuang keras didalam menjadi terang didunia ini, kita perlu menunjukkan integritas dan prestasi kita didunia ini agar semua orang tahu bahwa Yesus-lah yang menjadi pendorong didalam hidup kita,namun didalam perjuangan kita jangan sekali-kali kita melupakan kasih Tuhan, bukan doa dan baca Alkitab setiap pagi yang penting,bukan menghafal ayat-ayat,atau mendapat nilai bagus atau gak melanggar hukum yang penting dimata Tuhan, yang penting adalah relasi kita dengan Tuhan, hati kita bicara dengan hati Tuhan, hati kita menyatu dengan hati Tuhan yang pada akhirnya tercermin pada tindakan kita.

Semua berawal dari motivasi hati lalu tercermin pada tindakan kita bukan sebaliknya, jangan focus pada tindakan-tindakan kita lalu kita mengclaim bahwa kita telah melayani Tuhan, mulai dari hati, mulai dari motivasi

Di pagi ini Tuhan telah berbicara kepada kita semua, untuk mempersembahkan hidup kita sebagai ibadah yang sejati, hidup yang tidak hanya focus pada tindakan-tindakan kita tapi juga focus pada hati kita dan hubungan hati kita dengan hati Tuhan.

Sebuah “instruksi” yang sangat berat telah Kau nyatakan pada kami Tuhan, kami percaya bahwa Engkau akan mendampingi, mengajar dan memperlengkapi kami manusia yang tidak sempurna ini agar kami bisa memenuhi “instruksi” mu dan Engkau berkenan terhadap persembahan hidup kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar